SANG PEDESTRIAN

// // Leave a Comment
Ini jam 7 , dan aku tono , ya , aku tono
Berjalan seorang diri , menikmati perihnya paku yang menancap di kaki kiriku
Menatap kosong hamparan toko toko jamuan
Menggigil sendu dalam hitamnya jaman



Jam 11 , aku masih tono
Yang tetap berjalan , ditemani jahatnya gigitan surya
Mengadu nasib demi sepotong koin
Hingga dihinggapi perasaan mati suri


Jam 12 lebih 56 menit , aku masih tono
Berjalan lagi , ditemani iringan debu dan sobekan kertas yang terbawa angin
Diiringi musik knalpot garang kuda besi di tengah sana
..lalu menatap , keatas sejenak , kemudian berjalan lagi


Jam 2 , aku masih tono
Berjalan , meski darah di kaki kiriku mengalir semakin liar
Namun aku tak begitu peduli
“aku musti dapatkan koinku lagi !”


Jam 3 seperempat , aku masih tono
Menyanyikan tembang jiwa ,
Membunuh sunyi dikerumunan mereka , si budak rupiah
Yang terkesan haram memandang orang orang sebangsaku , bangsa melarat


Jam 5 , aku masih tono
Kini aku berjalan , menusuri tapak darah yang kubuat tadi pagi
Untuk memberitahuku jalan pulang
“dengan 124 koin logam ini , istri dan putriku akan  gembira”


Jam 6 20 menit , aku masih tono
Telah sampai dirumah kami  ,  gubug bekas kandang kerbau tetangga
 Berharap senyum kedua malaikat rumahnya
Namun tak disangka , mereka mati gantung diri siang tadi


Jam setengah 7 , aku masih tono
Isak tangisku tak dapat terelakkan , dan memecah pekikan adzan
Kedua malaikatku kini telah meninggalkanku sendirian
Lalu kutemukan secarik surat dibawah piring kosong dipinggir meja





“tonoku sayang , aku sudah muak dipermainkan waktu, aku lelah jadi tumbal sesatnya jaman !! aku sudah memohon setiap hari kepada Tuhanmu untuk memberi kita riski melimpah , 5 kali sehari , 5 kali ! apakah permintaanku terlalu berlebihan ? hingga Tuhan pongah dan memalingkan wajahnya dari harapku ??! maaf tono , namun sepertinya aku musti mati sekarang , aku sudah lelah ! kamu tak perlu memikirkan tentang hutang kita kepada rentenir jahannam itu , aku sudah melunasinya dengan menjual diriku ke koh liem , si tua bangkotan pemilik toko material di kota . sekali lagi , maaf..”

Istrimu , hanah






Jam 9 , aku masih tono
Airmataku sudah habis , dan kedua malaikatku itu sudah aku kubur
Lalu aku beranjak ke masjid , sholat , dan minta petunjuk
Ke 124 koin tadi aku masukkan ke kotak amal , mereka lebih membutuhkannya ketimbang aku sekarang


Jam 10 kurang , aku masih tono
kembali berjalan , menoyak kesunyian malam , hingga ke jembatan kali progo
Dengan apa yang tersisa sekarang , aku hanyalah sebatang kara tumbal jaman
“jaman telah menyakitiku” , aku pun terjun ke progo , dan mati , tak ada yang mengenangku , hingga kini

0 komentar:

Post a Comment