Aku pernah berharap engkau menungguku di tengah hujan deras dini hari. 

Engkau yang benar-benar polos, yang putih, yang tanpa pura-pura. 

Kita memang pelaku sejarah yang salah kaprah, sehingga kini kita terjebak kepada warna kelam yang tak tentu arah.


Benar.

Aku dan engkau memang tidak pernah menyerah. Memupuki apa yang tak kita ketahui, tak berharap berbuah, menyirami tanpa perlu banyak arti. “Aku tidak tahu, aku hanya suka. Kamu tidak menahu, kamu hanya terbiasa.”

Aku habis kata, harap adalah pisau yang siap menikam. Mungkin hujan tengah menggoda, bagaimana menjauhkan diri dari kebersamaan, selain dengan menguji ekspektasi kita yang selalu berlebihan.