Lord Didi Kempot, atau 'The God Father of Broken Heart', adalah seorang perawat kesedihan. Sebagai perawat kesedihan, tentu saja, tugasnya adalah merawat luka patah hati, ditinggal pergi kekasih, disalip menikah si mantan, dan kesialan-kesialan bab asmara lainnya.

Sebagai perawat kesedihan, kinerja Lord Didi Kempot memang jempolan.

Kinerjanya bisa dibilang 11-12 dengan mantan pacar kalian; lama menghilang, tiba-tiba hadir di 2019, kembali merusak pertahanan hatimu yang setengah mati kau benahi. Ambyar!

Namun, diakui Lord Didi Kempot sendiri, bahwa karirnya tidak semulus menghabiskan gaji pacarmu yang sudah pasti sedikit di atas UMR itu.

Ia perlu membangun karir selama lebih dari 30 tahun, untuk sampai pada titik tempatnya berdiri sekarang.

"Saya rekaman hampir 31 tahun, artinya ada kesabaran untuk membangun karir di bidang bermusik ini," aku Didi Kempot di sela pentas di Lapangan Jenderal Sudirman, Ambarawa, Jateng, belum lama ini.

Musik campur sari dipilihnya untuk mencabik menangani hati generasi muda yang kelara-lara. Didi begitu mengapresiasi generasi muda yang saat ini bisa menerima musiknya tersebut.




"Sekarang ini ada antusias yang lebih tinggi, kenapa? Karena apa yang disebar di medsos luar biasa."

Lord Didi mengakui peran gadget dan media sosial membantunya dan para artis mencapai kepopuleran yang mereka butuhkan. 

Dari sisi keterjangkauan, medsos menjadi senapan terbaik para artis menggapai masyarakat lebih luas. 

"Artis zaman ini pun kena getahnya, tinggal campaign melalui medsos maka mereka sudah bisa menikmati hasil yakni popularitas. Meski mereka juga harus mengimbanginya dengan karya yang berkelas."

Ucapan apresiasi terus ia berikan kepada generasi muda, yang selalu menjadi barikade penonton terdepan di setiap konsernya di segala penjuru negeri. 



"Saya sering diundang ke kampus-kampus, dan setiap saya manggung di barikade terdepan penonton pasti anak-anak muda dengan segala gadgetnya. Ini kan bentuk merawat budaya, jadi saya mengapresiasi sekali hal-hal semacam ini."

Lord Didi Kempot, menilai generasi muda saat ini sudah mulai mau merawat budaya bangsa sendiri. 
Banyak sekali budaya Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. 

"Bahkan untuk memlerjuangkan negara ini melawan penjajah, kita harus berjuang secara bersama sama. Kebersamaan ini yang harus dijaga. Apa yang disampaikan presiden juga sangat luar biasa, untuk membangun peradaban yang maju, kita tak boleh meninggalkan budaya."