Suatu Malam di Tempat Karaoke | Diam Membisu - Kumpulan Cerpen, Puisi, Tulisan dan Hal-hal yang Terjadi di Sekitar Kita

Suatu Malam di Tempat Karaoke



Karte memang aneh.

Ia menantang ketiga rekannya; Je, Azo, dan aku, untuk memilih satu lagu yang mewakili perasaan masing-masing selama hidup. Kami berempat malam itu memang sedang berada di sebuah tempat karaoke di tengah kota.

Kesibukan membuat setidaknya setahun bagi kami semua untuk bisa menyempatkan diri menikmati malam itu bersama. Kami berempat adalah teman satu sekolah tujuh tahun silam.

Karte menjadi yang pertama. Ia memilih lagu Under the Westway, milik Blur.

"Mengapa?" kata teman-teman.

"Setelah semua hal yang terjadi hidupku, aku memang harus butuh Tuhan," Karte bercerita.

Karte tampak menyanyi lagu itu dengan serius. Kami melihatnya. Tersipu.

Je menjadi yang kedua, ia memilih lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada, dari Chrisye.

"Mengapa?" tanya kami.

Mulut Je tiba-tiba bergetar. Pendekatannya berbanding terbaik dengan Karte. 

"Setelah semua hal yang terjadi di hidupku, aku menjadi bertanya apakah Tuhan itu ada?" katanya.

Menurutnya lagu Chrisye itu menghajar telak jiwanya sejak pertama mendengar lagu tersebut. Je meyakini hakekat bertanya saat ini telah menghilang dari diri orang-orang.

Orang-orang lebih sering mengangguk. Maka lagu itu dinilainya, sebuah oase yang menyejukkan.

Je menyanyi secara khusyuk lagu itu. Kami semua mendegarkan. Kalut.

Giliran Aro. Ia memilih dengan cekatan.

Ia memilih Jalan Dalam Diam, milik Dialog Dini Hari.

"Mengapa?"

Menurut Aro, yang terpenting bukanlah apakah ada Tuhan ataupun tidak. Ia mengaku gelisah sepanjang hidup, apakah kehidupannya telah memberikan impact yang baik bagi sesama manusia dan alam.

"Bagiku titik keimanan seseorang telah berada di puncak saat memahami bahwa hidup adalah memberikan kebaikan ke sesama. Di titik itu, Tuhan, apabila memang ada, akan hadir. Maka aku selalu gelisah," Aro berujar, lirih.

Mantan aktivis kampus itu, menyanyi lagu tersebut tanpa cela. Kami semua terus membuka mata.

Giliranku.

Aku memilih Hujan Mata Pisau milik Fstvlst.

"Kenapa?" tanya mereka heran.

Lal aku bercerita tentang keseimbangan. Ada tuhan-tak ada tuhan, utara-selatan, timur-barat, hitam-putih, isi-kosong, dan lain-lain. 

Bagiku, untuk memahami keimanan, perlu ada keseimbangan. Tak bisa berat sebelah. 

"Karena, ketika kau terlalu berada di sisi baik, kau akan menemui titik jenuh. Di titik itu, tak mungkin kau memahami Tuhan," terangku.

Aku menyanyikan lagu itu. Aku dan teman-teman menitikkan air mata.

Malam itu memang aneh.

Share this:

diamembisu.com

Hai! Saya Akbar Hari Moe. Penyuka dunia kepenulisan dan seni sastra. diamembisu.com merupakan self project sejak tahun 2011 hingga sekarang. diamembisu.com percaya, semua orang perlu didengar dan dimengerti. Dan lewat puisi, hal tersebut bisa dipenuhi

0 komentar:

Post a Comment