Ajal Pada Sebatang Pohon – Obituari | Diam Membisu - Kumpulan Cerpen, Puisi, Tulisan dan Hal-hal yang Terjadi di Sekitar Kita

Ajal Pada Sebatang Pohon – Obituari



I.
Tanah adalah rahim.
Gelap, pekat, senyap
Aku sendiri.
Tidak.


Tanah, cacing, air, angin dan matahari adalah saksi.
Aku hanyalah kecil.
Sangat kecil.
Rapuh, mudah mati.

II.
Alangkah biru, pada mata relakan tubuh ini.
Lamban-lamban detik usia trembesi.
Uzur, sinis hadap garis waktu,
Menjulang rasuk rindang jantung itu.

Bijak usia tua.
Pangku anak-anak, berwajah kita.
Terasa jauh tenang, bercerita,
Obituari, jalan pulang, rayakan duka.

III
Sebatang pohon terbangun dari tidur.
Terjaga. Tak kekal. Menanti adalah bebal.
Ia takkan pulang merangkak. Bintang tak pernah secantik tampak.
Eja di lidah. Buram, patah-patah.
Latah.
Ambisi.
Datang tak hening. Ia terbang.

Perlahan-lahan, aku menjadi beda.
Hari menjadi tahun.
Menerobos pekat, tumbuh menembus tanah.
Terang, bercahaya, lega.
Ragaku utuh.
Berakar, berbatang, beranting, berdaun, berbuah.

IV
Sempurna.
Alam menerimaku dengan caranya.
Badai dan hujan menyapa.
Daunku berterbangan jatuh.
Aku terkoyak.
Sakit.

Burung gereja bernyanyi, merdu.
Membuatku terbuai disetiap alunannya.
Ia merebah, kulindungi dari terik.
Kemudian tertidur.
Aku senang.

V
Hari ini aku akan mati.
Aku tak mampu menolak.

Jika bayangan mengabur di sekeliling, itulah
ambisi datang. Bersolek garang.

Kau patahkan ranting-rantingku.
Kau kapak tubuhku.
Sakit.

Aku pasrah. Payah.
Jatuh.
Tumbang dahan liturgi.

Hinggap! rantingmu tergores ambisi

Akbar Hari Mukti – Erest Mandarevina, 2015

Share this:

diamembisu.com

Hai! Saya Akbar Hari Moe. Penyuka dunia kepenulisan dan seni sastra. diamembisu.com merupakan self project sejak tahun 2011 hingga sekarang. diamembisu.com percaya, semua orang perlu didengar dan dimengerti. Dan lewat puisi, hal tersebut bisa dipenuhi

0 komentar:

Post a Comment