Senja ini pilu yang menggigil,

sepi di antara benalu dan pohon pohon. Tak bergerak.

Semat di desir elegi, beribu tak bisa mendera

Yang jauh menatap isi garis pantai; menemani yang kini tak ada lagi.


Temaram memunculkan karam,

begitu juga suara gagak di kejauhan.

Adalah petaka setelah taman yang kita duduki hancur tertimpa kita sendiri



Dalam terawang akankah engkau dapat

mengerti tentang segala imaji isi ?

Sedang kau tebar dingin;

engkau telah menikam segala imaji.



Tak ada lagi. Sepi adalah lelah tak dapat 

berdetak.

Kita sudah berada di tepian, berseberangan.

Musnah harap.

Biar desir pantai menemani

langkahku sampai di sudut yang tidak engkau cari.





*untukmu yang sangsi*