Edukasi terkait seks (sex education) sejatinya diperlukan oleh setiap orang. Bahkan, semestinya edukasi seks diajarkan kepada generasi penerus sejak dini.

Lewat hal itu, para generasi penerus memiliki pengetahuan yang cukup terkait seks dan segala akibat yang ditimbulkannya.

Hanya saja, pendidikan seks masih dianggap tabu oleh sebagian masayrakat Indonesia. Meski sejak tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Republik Indonesia memasukkan materi pendidikan seksual di setiap jenjang pendidikan dalam kurikulum 2013, pengaplikasiannya dirasa belum maksimal hingga saat ini.

Premis tersebut pun coba diangkat di layar lebar melalui film berjudul Dua Garis Biru.

Disutradarai Ginatri S. Noer, film Dua Garis Biru menceritakan dua remaja SMA, Bima (Angga Aldi Yunanda) dan Dara (Aldhisty Zara) yang melakukan seks bebas di usia muda. Apa yang mereka lakukan pun pada akhirnya berakibat fatal dan tak terduga bagi keduanya serta orang-orang di dekatnya.

Bagi mereka yang telah memahami segala resikonya, seks bebas merupakan sebuah pilihan. Artinya mereka bisa memilih untuk melakukannya atau tidak.

Namun bagi anak usia sekolah, seks bebas memiliki resiko yang teramat besar. Di film Dua Garis Biru, Ginatri sukses membuat penonton 'menikmati' resiko-resiko tersebut.

Penampilan Aldhisty Zara sebagai Dara cukup kuat. Ia mampu mentransformasikan diri Dara, si remaja yang teramat gandrung dengan segala hal berbau Korea dan memutuskan ingin melanjutkan studinya di negara tersebut.

Chemistrynya dengan Angga Aldi Yunanda pun terbangun kuat sepanjang film berlangsung. Meski ada beberapa part di mana chemistry keduanya lemah, namun secara umum penampilan keduanya layak diacungi jempol.

Plot dan konflik berjalan runut. Setiap konflik yang terjadi, digambarkan secara gamblang oleh Ginanti.

Yang tak kalah bagus ialah penampilan orangtua Dara (Lulu Tobing - Dwi Sasono) dan juga orangtua Bima (Cut Mini - Arswendy Bening Swara).
Sikap para orangtua yang kebingungan atas apa yang menimpa anak mereka di nyaris sepanjang film, menurut diamembisu.com adalah gambaran umum para orangtua jika dihadapkan pada situasi serupa.

Orangtua mana yang tidak bingung jika mengetahui anak gadisnya hamil di usia 17? Atau orangtua mana yang tak kebingungan pada saat anaknya yang masih SMA menghamili pacarnya?

Tentu dengan penerimaan, segala hal dapat terjawab. Tetapi, jika pendidikan seks diajarkan sejak dini di sekolah maupun di rumah oleh para orang tua, maka Bima, Dara, dan anak-anak sekolah di Indonesia memiliki pengetahuan yang cukup terkait seks dan dampak yang ditimbulkannya.

Jika isu-isu seperti pendidikan seks tak segera diajarkan dan dibiarkan terus tabu, baik oleh orangtua maupun sekolah, maka apa yang terjadi pada Bima dan Dara bisa terjadi oleh anak-anak lain di seluruh Indonesia.