written by : Tiar  Aprillia M

Berawal dari kejadian itu yang membuat aku dan temanku, Indah, merasa bahwa teman kami berbeda dari awal kami kenal dulu. Teman kami berubah karena dia(seseorang yang teman kami sukai). Aku selalu diam jika didekatnya. Aku dan Indah mulai memberi jarak untuknya agar teman kami mengerti kalau kami sedikit memberontak. Entah mengapa teman kami itu selalu membicarakan dia, dia, dan dia. Indahpun merasakan hal yang sama.Ketika Indah ingin bercerita tentang sesuatu pasti teman kami malah membicarakan dia(tidak ada sangkut pautnya sama sekali). Semakin lama kami tak tahan, akhirnya pada saat teman kami keluar untuk kepentingan organisasi, kami pun memikirkan waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi sulit rasanya, karena teman kami berzodiak aries yang notabene nya sensitif dan keras kepala jika diingatkan atau dinasehati orang lain walaupun orang dekat sekalipun. Kami paham itu karena persahabatan kami terbentuk secara tidak sengaja oleh persamaan zodiak. Hehehe... Kami sama-sama berzodiak aries. Akhirnya pada saat yang ditentukan oleh ‘Dia’ tak perlu aku sebutkan dimana dan melalui apa terjadilah dialog tak langsung antara aku dan teman kami itu. (Aku sengaja berusaha menggunakan bahasa yang sehalus mungkin).



Teman kami          : Aku cemburu kepada dia yang selalu membasahi sujudnya di 1/3 malam-Mu.

Aku                           : ‘Dia’ lebih cemburu padamu ketika kamu hanya memikirkan dia yg disana.. :)

Teman kami       : Aku hanya memikirkan bagaimana aku bisa seperti dia agar ‘Dia’ tidak cemburu padaku.

Aku                        : Tak usahlah menjadikan dia sebagai patokan. Cukup jadi dirimu yg dulu.

Teman kami       : He'em...I will...

Aku                        : Taukah kau mereka yang didekatmu rindu dirimu yang dulu.Bukannya mereka tak suka dirimu yang sekarang.Tapi mungkin mereka begitu karena ‘Dia’ cemburu padamu yang selalu memikirkan dia.Dibanding dulu kau slalu memikirkan ‘Dia’.

Teman kami       : Memang benar apa yang kau ucapkan.Terkadang manusia juga khilaf, namun setidaknya aku sangat bersyukur karena sebagai sahabat yang baik kau mau mengatakan yang sebenarnya.

Aku                        : Aku lebih baik jujur, karena memang aku tipikal blak-blakan. Tapi aku mencari waktu yang tepat untuk itu, karena bisa saja ucapanku pedangku.

Teman kami       : Iya memang jika kau mengucapkannya pada keadaan yang tidak tepat mungkin aku menganggap bahwa ucapan itu bukti bahwa kau membenciku atau apa...

Aku                        : Maka dari itu -,-

Diamku emas pada waktunya.Aku tak pernah membenci sesama.Kecuali mereka yang membuatku seperti itu. Tapi aku berusaha menghapus rasa itu, agar aku bisa mempelajari kedewasaan sebenarnya. Bukan kedewasaan yang hanya dibibir saja.

Memang dunia indah sampai manusiapun mabuk karenanya.

Tapi dunia kalah indah dengan tempat keabadian, bahkan tak pantas untuk dibandingkan. Aku tidak hanya berkoar-koar tapi itu knyataan yang selama ini aku lihat.Tak selamanya yang lebih tua dariku sadar akan itu. Maka bahagiakah dirimu disampingku?? Hanya kau dan ‘Dia’ yang tau.

Teman kami       : Bukan bahagia lagi yang kurasakan. Bahkan sesuatu itu terkadang takkan mampu dilukiskan dengan kata-kata saja. Memang benar dunia ini indah tapi lebih indah lagi kehidupan yang kekal nanti jika mereka mengetahuinya. Bukan masalah tua atau muda saja tingkat kedewasaan itu bisa diukur, mungkin saja kita bisa lebih dewasa dari orang tua kita.

Aku                        : Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Sebagai sahabatmu, aku tak inginkan lebih. Aku hanya berfikir, seandainya suami istri bersikap seperti kita mungkin kiamat kan menjauh. Sekarang aku sedikit mulai percaya bahwa persahabatan itu baik adanya. Aku doakan kau mendapat pasangan dari sebuah persahabatan nantinya. Sebagai gantiku. Karena tak selamanya aku hidup didunia disampingmu. Aku bisa saja mendahuluimu.

Teman kami       : Tiada seorangpun bisa menghindari atau tahu kapan datangnya kiamat, bahkan umur kita sendiri. Sebagai sesama muslim akupun juga menginginkan yang terbaik untukmu juga. Sebagaimana mestinya maka mari kita sibukkan diri kita pada urusan di dunia ini yang akan menjadi bekal kita di akhirat, karena tak ada seorangpun yang menginginkan meninggal dalam keadaan merugi...

Aku                        : Semoga mereka tak menjadi penghambat kita untuk menuju Cinta-Nya. Aku ingatkan jangan kau bandingkan cinta-Nya dengan cintanya. Jelas tak bisa dibandingkan. Tapi cintanya bisa membawamu menuju cemburu-Nya, cemburu-Nya lebih dahsyat. Bahkan bisa merenggut apapun yang bisa membuatmu kembali peduli pada-Nya. Dia Maha Cemburu. Aku bahkan takut akan cemburu-Nya.

Teman kami       :Aku tau itu, bahkan aku pernah merasakannya.Karena memang tak ada yang bisa dijadikan bandingan-Nya.Berdoalah agar mereka bisa menjadi penghubung cinta kita kepada-Nya, bukan malah sebaliknya.

Aku                           : Iya amiin, semoga mereka (dia dan dia) merupakan jodoh kita yang memang dikirimkan dari-Nya.

Teman kami       : Amin ya robbal alamin :)


                Begitulah kiranya, aku lega teman kami tidak tersinggung dengan cara penyampaianku. Aku sebenarnya orang yang tidak mudah percaya dengan apapun. Aku masih menunggu perkembangannya nanti. Karena kami belum bertemu teman kami secara langsung. Semoga kalian bisa mendapatkan tambahan pelajaran bagaimana cara mengingatkan orang-orang terdekat kalian. Mengingat setiap orang memiliki watak yang berbeda-beda.