Di Gelas Mocca Keempat

// // Leave a Comment

Ada basah yang

bikin sumpek kepala.

Baunya basi,

seperti segelintir pendemo yang merasa

mereka perwakilan Tuhan.


"Aku tak sengaja," katamu.


Lalu, sayup-sayup suara televisi di bar

terdengar.


"Masa pendemo di ibu kota itu

berubah

menjadi sekumpulan lalat."


Di gelas mocca keempat, aku kira

kita

tak akan lagi berjumpa.


Seketika, di ranjang itu, aku baru

menyadari

satu hal; kamu dan temu tak

pernah

bisa menyatu.


"Jangan sampai menyesal," katamu

mendesah.


Sudah pukul 3 pagi di kepalamu. Aku harus

melangkah.

0 komentar:

Post a Comment